Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Manusia perasa penuh asa

Lihat kami Manusia perasa yang berasal dari tulang rusuk adam Menggenggam kehidupan atas ketentraman Menarik kehangatan penuh kasih sayang Suguhkan sajian penuh cinta Melahirkan generasi penerus bangsa Madrasah pertama bagi anaknya Hingga berbagi cerita dan air mata Lihat kami Mengingat sejarah suram dimasa lalu, kaum kami terabaikan dan dihinakan Lalu kini, Emansipasi wanita dimerdekakan Emansipasi dibentuk untuk menciptakan generasi yang handal berkualitas Bisakah kita menciptakan sesuatu yang hebat? tanpa mengetahui hal yang menciptakan kehebatan? Maka, belajar adalah kekuatan Wanita masa kini adalah wanita yg tangguh nan cerdas Banyak peran yang dilakukan tanpa harus banting tulang Tapi letih melintang! Emansipasi wanita dibentuk bukan untuk menyaingi lelaki Tetapi untuk membangun generasi Jadilah wanita yang berkualitas di pelosok negeri.

Hentikan rindu

Hentikan Rindu Pesona parasmu mengundang cinta Hatimu tahu menimbang rasa Sosokmu penenang jiwa Jadi beban kala kau tak ada Disini.... Bersamaku Temani hari hari yang kian berlalu Menapaki sudut jalan berliku Nyatanya aku hanya bisa memikirkanmu Kau hadir disetiap sudut rindu Terus mengganggu Aku tak kuasa menghentikannya kenangan yang terlalu dalam merasuk kalbu Cobalah mengerti rasaku Hampiri aku, dan beri sedikit ruang pengobat rindu Karya : shofi Elsiana Maulida

Puisi Ditimang alun asmara

Ditimang alun asmara Oleh : shofi elsiana maulida Seperti hal bodoh saat ditimang alun asmara Di depan tubuh cermin ku tertawa Menatap begitu mengagumkan mata Lalu tersenyum Kata lembut terngiang, terlantun titik dari mulutnya Katanya ia ungkap cinta! Serasa di balik awan, menari dan berirama Dia bak bunga bermekaran ditengah kota Ku ingin terus tersenyum padanya Meraih lentik jemari menyapa Lalu ku jawab ya! Dia sosok primadona yang ku damba

Rumah tua

Rumah tua By: shofy elsiana Atap lapuk tak lagi kokoh Alaskan lantai berbalut debu menghambur Pudaran foto terus menyusur Detakan jam besar yang kian berdenting Mengirama waktu terus melaju nyaring Riung canda tawa tak lagi menggema Ramaikan rasa yang dulu pelipur lara Takaran sudah hampir penuh Wanita tua selalu mendamba sapa tamu menyapa Hibur hati yang sedang gundah merana Hanya rumah tua pelindung hujan dan terik Pendengar cerita pilu yang terus menjerit Sebatang kara tak ada sanak saudara Rumah tua temani hari-hari Terus berbisik Cerita kenangan yang dilalui Kala wanita tua tak sanggup dalam sendiri